Senin, 07 Februari 2011

Ibu aku malu mengaku islam

ibu, aku malu menjadi manusia yang beragama ibu.
lihatlah, mereka-mereka berteriak dengan lantang menyebut nama Tuhan, dan mereka bangga telah membunuh sesamanya, katanya itu perintah Tuhan yang tertera didalam ayat suci-Nya.
ibu, mungkin iblis sangat malu mendekati mereka.
karena iblis takut dijadikan sebagai kambing hitam, dengarlah ibu, iblis pernah bercerita kepadaku, bahwa mereka tidak pernah membunuh sesamanya dengan mengatas namakan Sang Pencipta.
aku malu ibu.
sungguh teramat malu mengenakan pakaian islam ini, sebab mereka telah membagikan kotoranya kepada pakaianku.
lebih baik aku tanggalkan saja pakaianku, lalu menemui kekasihku disudut malam.
aku ingin menceritakan tentang kebaya merahmu yang termerahkan oleh darah anak-anakmu sendiri.
ibu...
aku akan menyanyikan sebuah lagu dari sahabatku untukmu, mohon dengarkanlah.

Kebaya merah by Virgiawan Listanto

Kebaya merah kau kenakan
Anggun walau nampak kusam
Kerudung putih terurai
Ujung yang koyak tak kurangi cintaku

Wajahmu seperti menyimpan duka
Padahal kursimu dilapisi beludru
Ada apakah?
Ibu

Ceritalah seperti dulu
Duka suka yang terasa
Percaya pada anakmu
Tak terfikir tuk tinggalkan dirimu

Ibuku, darahku, tanah airku
Tak rela kulihat kau seperti itu
Ada apakah?
Ibu

oleh : Virgiawan Listanto

puisi by : Budi wb

Minggu, 06 Februari 2011

Perempuan diatas kereta

Perempuan tua menatap langit dibalik jendela kereta, awan hitam masih saja bergelayut. Apakah hujan dan badai akan segera reda dan meninggalkan cerahnya sore dibatas cakrawala berhias pelangi.

"Duhay Langit, wajahmu selalu kurindu.Dengan tatap yang penuh harap, ia bermunajad.

" Duhay Yang maha indah, kereta terakhirku penuh dengan ular berbisa, namun kekasihmu memberikan sebuah cinta-Mu tuk perjalanan terakhirku.

Dengan senyum yang terkulum diantara kerut-kerut wajah yang masih ayu, terbasahi air dari kelopak mata sayunya.

" Wahay langit, baiklah, hujan pasti akan segera reda, dan mereka telah menantiku digerbang berikutnya, sebelum stasiun terakhir bersama bidadari-bidadari kecilku.

Hujan dengan perlahan memberi tanda tuk reda, sang perempuan masih duduk dengan tenang namun penuh harap. Tuk sebuah cinta dan kepada misterinya.
- sekian -

Rabu, 02 Februari 2011

Aku tak Mengerti Dirimu

Aku tak mengerti

sungguh tak mengerti

akan tenangnya air

lalu tiba-tiba beriak menghantam karang

Padahal aku tak melemparkan batu yang besar

dan aku sungguh tak habis pikir saja

ternyata begitukah dirimu kepadaku

padahal kucuma melempar sepuntung rokok

******

Wajahmu ayu

dadamupun besar

namun kenapa bajumu teramat sempit

jadinya kamu gampang sesak nafas

Gantilah dengan ukuran yang besar bajumu itu

biar tak terlalu kesempitan

dan janganlah kau nampakan dada besarmu itu kepadaku

karena aku sangat tak tahan tuk menjamahnya

******

Diluar hujan

dingin

dan tak ada reaksi tuk mencoba bergerak

karena enakan berdiam diri saja

Padahal bila bergerak dingin akan segera beranjak

walau sedikit membutuhkan keberanian diri

tapi…

ada perubahan rasakan

Yasudahlah

sebentar lagi hujan reda

bila tak segera beranjak

aku akan segera pergi

---------------------------------------

Say,,,dingin

Dingin kala kutatap wajahmu

diluar sedang hujan

dan kau tak juga mau beranjak menyapaku

padahal aku telah lama disampingmu

*****

Kemarin kau bisikan sesuatu kepadaku

tentang sebuah syair rindu dari Rumi

tapi aku tak begitu mengerti isinya

yang kutahu hanya penyair gila

*****

Say

malam ini begitu dingin

aku akan segera beranjak

maukah kau mengikutiku

Sudahlah

aku ingin kita bergerak

menyusuri hujan

lalu menari dan tertawa sepuasnya

******

020211

by

bvb

Selasa, 01 Februari 2011

Puisi Morat-marit

Hay nona

ada badut tua mengajakmu berdansa

disebuah ruang pesta

matanya sendu syahwatnya beradu rayu

Hay nona

badut tua melotot matanya

rok minimu tutupi pecinya

lupa dompetnya bau keringat mbah Sastro dan Pakde Kardi dipinggir terminal

oooooooooooo

Jangan korupsi

kalau gak punya gigi

korupsilah kalo dah pake dasi

karena tuhan cuma mesam mesem saja

00000000000

Hay butet

ngomong apa kau itu

aku ini orang suci

cium tanganku

kualat kau

Ah macam mana pula aku cium tanganmu

tangan ibukupun aku tak tau bagaimana baunya

ah obat kau habis itu

segeralah kau minum kelima obat dari tuanku

agar tak kegedeanlah baju kau itu

*********

Akulah Pelacur Aksara [50k]

Aku tabu

aku hina

aku kotor

aku rakus

aku tolol

aku adalah pelacur aksara

Berpuluh-puluh aksaraku tabu

menghasut khayalmu tuk bermesum ria

laksana wanita penjaja kehangatan tubuhnya

itulah aksaraku

Malam itu hitam

namun bulan dan bintang menyukainya

dan aku…

hanyalah pelacur aksara yang menjijikan tuk kaum suci yang bukan sufi

Jangan kau dekati aku

sebab aku adalah jalang yang pantas dicaci

dibicarakan dan dicela dikuil suci

dan tak pantas tuk merayumu tuk mengajaku berdiskusi tentang organ diri

Aku kesepian

tapi kutak suka mencari perhatian

karena sepiku tuk kekasihku

bukan untuk kalian-kalian yang mensucikan keakuan

Demi kitab suci yang sulit kumengerti

semoga aku tak membenci

kepada jiwa-jiwa yang malang

dan jiwa-jiwa yang suka membeda-bedakan tanpa persetubuhan yang mendalam

——————————–

————————————-

——————————————–

Pinggir trotoar pada 1 februari 2011

by

bvb

Lelaki tanpa Asa

Lelaki bimbang dirayu pikir, wajah sang kekasih masih asik bercengkrama diotak kiri.
Ingin segera beranjak melepaskan lelah diatas pangkuan rerumputan.

Lelaki bimbang dibujuk sepi.
Senyum berlesung pipit tiba-tiba masuk kedalam cangkir kopi, mengubah seleranya yang semula manis.

Imaginya ingin segera digadaikan pada dahan dan ranting, agar dia bisa bersandar melepaskan segala kelelahan yang teramat membuncah.

Diam.
Berharap purnama menyampaikan nyanyian dalam dada, tuk sekedar menyapa kepada wajah cantik dibawah bumi.

--------
--------
jgn dicontek !!