Minggu, 02 Januari 2011

Celoteh Istri Simpanan [januari 50k]

Wajah cantik berubah merah jingga
terkurung sepi dalam istana bermimpi
tersenyum mengulum dibibir merah marun

Tuan istana dinegeri seberang
janjikan dunia lepaskan celana
isi dada hanya maya
selangkangan adalah tujuan tuannya

Terkadang wajah cantik itu terpaku dijendela
menatap bunga bunga dan kupu kupunya
iri hati ketika sepasang merpati mengias sepi
tertunduk pada dada yang berkecamuk

Bibirpun menyapa bayu
titipkan rindu pada langit biru
berharap awan mendung segera hujan
dan larutkan lukanya menuju samudra cintaNYA


*diambil dari blog gua dikompasiana pada 1januari 2011

Say [januari 50k]

Say...
aku sudah lama berdiri terpaku menantimu
berbatang batang kerinduan telah habis kuhisap
ketika mentari timbul dan tenggelam fantasiku hanya memainkanmu

Say...
aku disini bercengkrama dengan burung burung yang berkicau
candakupun hampir habis bersama mereka
tapi kenapa kau takunjung datang tuk menemuiku disudut penantianku

Say...
lihatlah
rambutku bertambah panjang
dadakupun sudah tak busung seperti dulu lagi
aku mohon kemarilah dan bercintalah denganku disudut malam sepiku

Say...
jemariku sudah tak mampu lagi memainkan kecapi
karena banyak luka yang menganga tertusuk duri mawar
tapi biarlah nanti juga akan kering tertiup angin disekitarku

Say...
aku masih ingat pada senja itu
kau bikinkan segelas susu untuku
dan kita bercanda dan menikmati lembayung senja dibibir pantai

Say...
kata kataku hampir saja habis tuk menyapamu
aku tahu kau selalu membacanya ketika kukirimkan sebuah pesan dimeja kerjamu
tapi ya sudahlah aku memahami itu

Say...
cobalah mengerti
bahwa ruang rinduku telah terpatri padamu
dan semoga kamu dapat memahami itu

Kopi Dan Rokok [januari 50k]

Secangkir kopi tanpa rokok
kata orang bagai taman tanpa bunga
hmmm...
maybe yes miyabi no deh

Isi celanaku masih saja tipis
namun rambutku nampak klimis
kumiskupun nampak tipis
tak seperti kumis para pengemis dilayar tv yang beronani dengan RUU

Anjing kau...!!!

Gak juga tuh
liat saja lidahku tidak terjulur
karena aku tak sanggup tuk menjilat es krim yang tak mampu kubeli
mending kubelikan secangkir kopi dan sebatang rokok

Mungkin nikotin dan kafein bisa menghiburku dalam melodi senja
menghindarkan otaku tuk beronani ketika melihat mobil mewah
atau bersenggama dengan para pelacur dilayar kaca
hahaha...begitulah adanya orang gila

*****
Diantara botol botol yang bergelimpangan
melewati lorong gelap yang berbau sperma berhiasa desahan jalang
aku liwati hariku tuk jiwaku yang haus
tak perduli sisi gelap prostitusi dan srigala malam

Mungkin duri tajam selalu ada diantara bunga mawar
namun mawar tak bisa tercium oleh kedua lubang hidung bila tak aku petik
airpun takan bergelombang
bila tak aku lemparkan batu kedalamnya

Gila...!!!

Yeah aku memang gila tuk diriku
tapi sudahlah karena ini adalah caraku
bidadaripun tak ribut bila metapku bersenggama dengan derita
tapi ya sudahlah karena hidupku adalah untuku

Biduan Senja [januari 50k]


Saat rembulan mulai merayu senja tuk segera datang
aku hanya merebahkan lelahku pada air yang gemericik didepan mataku
larutkan gelisah dan memeluk cerah membuncah
berharap kejora dan sekawanannya segan menikmati malam sepiku

Asap nikotin terus kupermainakan lewat bibirku yang mulai menghitam
andaikan malam ini seorang bidadari duduk menemaniku menikmati kopi seduhanku
mungkin senar-senar gitarku kan mengajak seluruh serangga malam tuk dendangkan bermacam lagu
dan rembulanpun turut serta dalam alunan merdu suara-suara kami merajut malam meninggalkan senja

Tapi disini aku masih menikmati kopi hitamku dan rokok kesukaanku
jari-jarikupun masih nampak asik menari-nari memetik enam senar gitarku
lukisan cakrawala senja mengajaku tuk menuju kebesaranNYA
walau hanya lewat nada jiwa yang sebenarnya bermuram durja

Akulah sang biduan senja
bermunajat pada ufuk barat mengajak seluruh alam tuk bercengkrama
berdiskusi tentang hari ini yang telah berlalu
dan mengajak mereka tuk berdansa dalam hikmat kebesaran Illahi

Decak decak bemerecak air meriak
rembulan mengajak cicak tuk berdecak
dedaunan melambai dari beberapa tangkai
hibur diamku serukan sukmaku tuk merajut rindu

Ya Illahi
ya illahi
beraksi suara merdumu hibur piluku
mendekap jiwaku tuk setubuhi cintaMU

*****
Air mataku menetes
jatuhkan kotoran dari ribuan kemunafikan
menina bobokan kesombongan
dan membakar keegoan yang mendarah daging lumpuhkan jiwaku

Syalala lala lalala
dua dunia satu dalam cintaNya
mengubah ada menjadi tiada
mengadakan tiada menjadi ada dan tiada lagi sampai ada benar-benar ada selamanya


---------------

Bulan Berbisik [januari 50k]



Bulan berbisik
diantara malam yang terbaring terlentang begitu tenang
membisikan kata kata vulgarnya kepadaku
tentang persetubuhan jiwa bersama irama surga

Aku mendengarkan desahan angin yang merayu dedaunan
sementara rindu tentang kekasihku masih kupajang didinding hatiku
setangkai mawar hitam tergelatak tak berdaya diatas meja kerja
bersama sebotol anggur merah yang menggoda pasukan iblis dikepala

Sepotong coklat yang dulu pernah kuberikan pada kekasihku
masih terlihat sampahnya bersama plastik sisa pembalutnya
sungguh menjijikan sampah masa lalu ini
hmmm mungkin harus kubuang kesungai biar larut menuju laut

*****

Bulan masih saja berbisik pelan kepada daun telingaku
begitu manjanya dia mengajaku tuk bercinta
menyetubuhi malam yang penuh bintang
ditemani para serangga dan suara kalbu

Aku jadi teringat dengan senyum disamping mesjid
begitu anggunnya dan nampak sejuk ketika dua korneaku menatapnya
senyum itu mengajaku masuk kedalam mesjid
katanya dia ingin bercinta sampai benar benar tak bersperma

Oh tidak tidak
aku masih belum berani mengiyakan senyuman itu
kala itu tubuhku masih berbau tabu
dan celanakupun penuh dengan keangkuhan syahwat

Tapi entah kenapa malam ini
bisikan rembulan membuatku merasa rindu
akan persetubuhan kalbuku bersama sang malam
dan tanggalkan seluruh pakaian yang teramat memberatiku

******

Malam
malam
bulan
bulan nan berteman bintang
iringi aku dalam pergumulan penuh haru
panjatkan rindu tanggalakan akuku
keluarkan tangisan buaya
lemparkan sisa sisa dusta dalam jiwa

Sabtu, 01 Januari 2011

Gelombang [januari 50k]

Tuan...
Bintang tidak mungkin menyendiri disungai
sungaipun tidak mungkin mengalir dengan bergelombang dengan bergelombang
jadi kau tidak perlu hempaskan tubuhmu untuk mencapai kegemilangan

*****
Tuan...
Tubuhku takan terhempas bila tiada kuceburkan
pada arus sungai yang membuatku larut
airpun takan membentuk gelobang
bila tiada angin yang berhembus disekitarnya

*****

Tuan...
Ketika langit menjadi mendung dan mengabarkan gelisah kepada petir
aku hanya sanggup diatas perahuku mengikuti arus sungai yang berliku
dan kuperhatikan sekeliling perahuku
sebelum badai datang bersama sang hujan yang begitu kencang

*****

Inspirasi dari seorang tamuku dari singapura wan samali.

Kabut [januari 50k]

Udara pagi menyapa dinding-dinding pekat kamarku,ketika kedua jendela rumahku belum juga kubuka.Tangan masih terasa kaku oleh segenap asa yang kemaren malam begitu beratnya tuk kugapai.

Kedua matakupun kucoba tuk membuka dan menengok seisi ruangan benakku.Tubuhku yang tersa lemah mencoba tuk bangkit dan melangkahkan kaki walau langkahku terseok-seok menyusuri pintu ruangan pengap.Tangan kananku berhasil menggapai gagang pintu dan membukanya.

Hmmm....
Kabut,begitu menghalangi kedua bola mataku tuk nikmati suasana pagi yang masih perawan.Langitpun nampak pekat dan sang surya yang biasa menari-nari bersama kicau burung tak begitu nampak oleh pandanganku.

Ada apa ini...?
Apakah rinduku tentang kesejukan pagi dan segala keindahannya tak boleh kutebus saat ini,padahal telah bertahun-tahun aku meninggalkannya oleh keterlelapanku diatas ranjang bersama mimpi-mimpi indah itu.Aku bosan bermimpi,aku ingin segera menikmati kesegaran udara pagi.Akan kucoba kedua kakiku melangkah menyibak kabun yang teramat pekat ini,atau sebaiknya kutunggu dulu sampai sang surya benar-benar mampu berperang mengalahkan siputih pekat ini.

Baiklah...
Aku akan bersabar menunggunya,dan kucoba isi waktuku dengan menyeduh secangkir kopi hitam yang tak terlalu manis dan kujejalkan sepotong roti tuk mengganjal perutku yang mulai menyanyikan irama-irama tak mengenakan suasana pagi.

Tik
tak
tik
tak...

Terus kupandangi jam dinding disudut ruanganku,hampir enam puluh menit kutunggu pagi yang penuh cahaya akan segera datang.Namun sang surya masih sibuk melawan kepekatan sang kabut yang tak mau begitu saja meninggalkan pagiku.Aku akan menunggunya dan akan kuatur nafasku dan kupulihkan tenagaku tuk segera menyusuri indahnya hariku seusai kabut meninggalkan pagiku bersama mimpi-mimpiku yang dulu.

*************


by
boil