
Saat rembulan mulai merayu senja tuk segera datang
aku hanya merebahkan lelahku pada air yang gemericik didepan mataku
larutkan gelisah dan memeluk cerah membuncah
berharap kejora dan sekawanannya segan menikmati malam sepiku
Asap nikotin terus kupermainakan lewat bibirku yang mulai menghitam
andaikan malam ini seorang bidadari duduk menemaniku menikmati kopi seduhanku
mungkin senar-senar gitarku kan mengajak seluruh serangga malam tuk dendangkan bermacam lagu
dan rembulanpun turut serta dalam alunan merdu suara-suara kami merajut malam meninggalkan senja
Tapi disini aku masih menikmati kopi hitamku dan rokok kesukaanku
jari-jarikupun masih nampak asik menari-nari memetik enam senar gitarku
lukisan cakrawala senja mengajaku tuk menuju kebesaranNYA
walau hanya lewat nada jiwa yang sebenarnya bermuram durja
Akulah sang biduan senja
bermunajat pada ufuk barat mengajak seluruh alam tuk bercengkrama
berdiskusi tentang hari ini yang telah berlalu
dan mengajak mereka tuk berdansa dalam hikmat kebesaran Illahi
Decak decak bemerecak air meriak
rembulan mengajak cicak tuk berdecak
dedaunan melambai dari beberapa tangkai
hibur diamku serukan sukmaku tuk merajut rindu
Ya Illahi
ya illahi
beraksi suara merdumu hibur piluku
mendekap jiwaku tuk setubuhi cintaMU
*****
Air mataku menetes
jatuhkan kotoran dari ribuan kemunafikan
menina bobokan kesombongan
dan membakar keegoan yang mendarah daging lumpuhkan jiwaku
Syalala lala lalala
dua dunia satu dalam cintaNya
mengubah ada menjadi tiada
mengadakan tiada menjadi ada dan tiada lagi sampai ada benar-benar ada selamanya
---------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar