Senin, 21 Februari 2011

Pulang Bersama Angin


Aku pulang bersama angin yang berhembus, melewati lembah-lembah kegundahan hati dan lembah-lembah yang teramat gelap tuk segala asa, gelapnya malam yang diselimuti dingin telah menyadarkanku dari pelukan ego yang begitu eratnya, membentuk jubah yang begitu tebal ditubuhku dan sebagian lagi telah berupa mahkota yang tersemat dikepala, menutupi rambutku yang panjang sehingga otaku gampang mendidih dikala sang surya menyapaku dengan garang dikala siang menyetubuhi benaku.

Kini aku telah pulang bersama angin, menikmati dinginya sifatnya yang berhembus, menelanjangi seluruh rasa yang sempat gemukan egosentrisku yang dulunya hanya berupa sikecil yang begitu dekil.

Wahay angin, teruslah kau berhembus, temani bumi tempatku berpijak dan bercocok tanam bersama beraneka ragam rupa dan warna dunia, Aku ingin seperti dirimu, yang tidak terlihat namun selalu berkerja demi sesuatu yang sangatlah bermanfaat, walaupun kau adalah bagian dari diriku.

Angin…

Kini Aku telah kembali pulang bersamamu, lewat nada-nada kasihNya yang menggoda melalui senyum mesra sang rembulan, kau pertemukan Aku disepertiganya yang senyap, lalu kau robek jubahku yang begitu tebalnya dan kau lemparkan mahkota dikepalaku sejauh-jauhnya, sehinggaku sempat terpental ketanah yang keras, namun sedikpun tubuhku tak merasakan sebuah kejatuhan yang menghentak rasaku, karenaku telah terbiasa dibawah, walaupun sesekali kau membawaku terbang keawang-awang melintasi berbagai macam senyum dan tawa yang telah teruji duka lara.

Aku telah kembali bersamamu, lewat tarikan dan hembusan nafas yang penuh harmonisasi, lewat ungkapan kasihNya yang tiada terhingga selamanya, dan Aku kembali seperti semestinya yang kuharapkan apa adanya tanpa bla bla bla yang ber syalala lalala.

DariNya dan kepadamulah dia titipkan sebuah kepulanganku, menanti datangnya izroil yang tak sedikitpun memberikan tanda kepadaku, hanya sebuah persiapan yang penuh dengan senyuman dari bercocok tanam diatas tanah yang kan menjadi tempatku berbaring dalam peristirahatan terakhir.

——————————————————-

Mencari jati diri, lewat sebuah renungan. Dan dia akan datang dan berbicara disuasana yang sunyi dan senyap, yaitu disepertiga malam.

Jangan percaya dengan yang menulis, tapi cobalah simak tulisanya saja, siapa tahu ada yang bermanfaat buat anda yang luar biasa.

bjb 21-02-2011

salam

boil

Sabtu, 19 Februari 2011

Pandangan

Ingin rasanya aku teriak ditelingamu
sekeras-kerasnya dan sekencang-kencangnya
agar kau bisa tau betapa menggeloranya perih didadaku
yeah, dadaku terasa perih dengan keakuanmu

Kau lemparkan seutas janji kemarin lusa kepadaku
dengan haru biru kumenantikan itu

Namun apa daya
kau hanya menganggapnya sebuah angin lalu yang tiada nilainya

Sungguh terlalu
pandanganmu melukai perasaanku

Apakah aku hanya sekedar anak muda berpakaian lusuh
dan kau seorang ibu yang senantiasa dianggap bijaksana dalam tutur kata

Oh tidak tidak...
pandanganmu sangatlah keliru
dan aku tahu Kekasihkupun sangat marah kepadamu
karena buruknya penglihatanmu terhadap dirimu sendiri

*****
Lihatlah hay kau yang sempat kupanggil ibu
kemarilah dan dengarlah petuahku

Tundukanlah pandanganmu
disaat kau menghadapi orang lain
siapapun itu
agar egomu tak menjadi subur
dan diatas langit masih ada langit
dan sadarlah
bahwa dirimu bukanlah siapa-siapa
itu saja

Rabu, 16 Februari 2011

Puisi Aja

Anugerah ungkapan keindahan Sang Pencipta cinta jagat raya.

Guna saling berempati kepada jiwa-jiwa yang berbeda satu sama lainya.

Angin barat berhembus ketimur, lalu keutara dan memutar kearah selatan dan kembali menuju barat.

Menghadirkan sebuah kehadiran yang berkasih sayang dan penuh keindahan.

Alam semestapun saling merayu dan berdendang penuh rindu dalam irama warna-warni yang menyejukan hati.

————————————

Tuhan

sapalah rindu kami terhadap sesama yang bernafas

bukalah kedua mata kami secara jelas

agar tidak rabun dalam memandang keindahan-Mu yang penuh warna

kikislah ego kami

agar tidak merasa paling benar

karena kebenaran hanyalah mutlak milikmu semata ya Tuhan

amin…

—————————————-

bjb 16-02-11

bvb

Senin, 14 Februari 2011

Kering

ranting-ranting mulai mengering
diantara semak belukar
burung nazarpun terbang tinggi melintasi cakrawala
dengan mata merahnya bersiap menerkam mangsa

Tuhan

bumiku telah merintih
para jiwapun tak lagi mengenal siapa dirinya
hanya ada materi dan pelepas shawat dibenak mereka

Minggu, 13 Februari 2011

Valentine dalam puisi

Violet senja memukau gemericik hati yang senantiasa merindu sebuah kasih

Alur ceritamu menyentuh rasa yang telah lama remuk redam oleh amarah

Lewat lukisan cinta dari semesta imagiku melayang tinggi

Empati yang kau ajarkan kepadaku tawarkan berjuta keindahan

Namun nada-nada sumbang senantiasa menolak sesuatu yang berbeda dari mereka

Tetapi tiap wajah selalu memang berbeda dan pastilah berbeda

Indah itu memang selalu dengan suatu yang tak serupa

Namun begitulah adanya dunia beserta isinya

Elok tak berarti harus serupa dan senama dalam menuju cinta dan kasih-Nya

————————————-

Hapy valentine, semoga cinta kasih kita senantiasa berjalan beriringan tanpa membedakan satu sama lainya.

salam kompasiana

by

bvb

Jumat, 11 Februari 2011

Lelaki dibawah Langit Hitam

lelaki diam dengan mata dibawa angin terbang melintasi berbagai bentuk ranting, daun dan lain sebagainya, lidahnya kelu seperti termakan empedunya sendiri, sesak nafasnya menahan udara kotor yang telah masuk memenuhi seluruh rongga dalam dadanya.

terkadang ia mengharapkan izrail tuk segera menjemputnya, sebab disekelilingnya sudah tidak ada yang bisa dipercaya tuk membagi resah.

malam yang sunyi ia memandang keatas langit, imaginya melayang menemui sekilas wajah yang pernah ia bayangkan bersandar dibahunya, membagi sebuah canda dan sedikit tawa yang membahana.

namun langit tiba-tiba menjadi gelap, dan angin berhembus semakin kencang tak menentu, membawa segala macam kotoran yang berhamburan memenuhi ruang hatinya, sebagian yang terbawa angin berupa benda tajam, terhempas menembus dadanya dan melukai kakinya yang sedang mencoba berlari tuk menghindari badai yang tidak bersahabat.

gagak- gagak mulai berdatangan, padahal izrail belum juga mengasih tanda atau sebuah pesan.

tidak ada kematian tuk lelaki itu.

hanya sebuah pesan yang mirip dengan sebuah kepastian yang paling pasti untuk dirinya saat ini.

*************

lelaki itu mencoba tuk membaringkan tubuhnya, matanya mengarah keatas langit-langit kamarnya, mencoba membalut luka dikakinya dan mengusap rasa sakit didadanya dengan melontarkan sedikit munajat kepada pemilik hatinya, merebahkan rasa tuk sebuah kesembuhan jiwa yang terluka.

keluh kesah tiada lagi berguna baginya, hanya ada sebuah ketakutan tentang sebuah penghianatan yang bermalapetaka, tiada gunanya meratapi diri, hanya menyuburkan rasa dengki yang semakin menjadi, mengadu kepada langit, dan mengharapkan sebuah perjuangan adalah jalan menyingkirkan duri dijalanan yang dapat mengobati luka sang lelaki.

bermunajad dan mencoba meramu sedikit obat, adalah sebuah jalan tuk memulihkan sebuah martabat diri sang lelaki yang telah terkontaminasi dengki dan caci maki, dan izrailpun mengintipnya dengan sedikit tersenyum mengulum, lalu pergi dan menantikan sebuah waktu yang benar-benar telah tertuliskan pada buku pedomanya.

_ sekian_

——————————-

——————————-

bjb 12-02-2011

boil

Kamis, 10 Februari 2011

Tak taulah

malam kali ini aku tak dapat duduk dan berdiskusi dengan bulan dan bintang
kedua mataku dibawa angin pergi entah kemana
dan aku
hanya ingin mencaci diri dengan sepenuh hati

bodoh
tolol

mungkin itu yang ingin kulemparkan dikepalaku
setelah sekian waktu jam dinding hanya mencemoohku

tak taulah