Sebilah belati berkarat,tiada berkilau disapa sang surya.Ketika tanah merah kecoklatan menggendongmu penuh kasih sayang.Ingin sekali aku memungutmu dan menjadikanmu sebagai teman dalam sebuah perjalanan panjang,namun batinku mencegah kedua tanganku yang terasa gatal tuk menjamahmu.
Seandainya kau boleh aku pungut,maka aku akan mengasahmu hingga berkilauan dan tajam.Sang suryapun akan sangangat terhanyut meraba tubuh mulusmu,sebab tubuhmu kan memantulkan kilaunya jamahan surya.
Waktu terus bergulir,bayanganmu yang terkapar diatas tanah selalu menghantuiku,namun apalah daya diriku,akupun sedikit berkarat sepertimu.Biarlah aku mencoba mengasah dan membasuh karat yang sangat menggangu keindahan tubuhku,setelah itu baru kau kupungut dan kuajak bercinta diatas kereta menuju istana.
Lalat-lalat menyukai bau usuk dan seonggak bangkai,namun sang lalat begitu pandai mencernanya menjadi makanan yang mengandung gizi tuk tubuhna yang mungil,sekedar bertahan hidup dan mengiasi dunia yang penuh warna.Gagak-gagak hitam tak luput mencabik-cabik mayat yang terkapar,semoga aku dan dirimu tak menjadi mangsanya.
Diatas bumi yang teramat tua renta
diatas sebuah kereta menuju istana
kita cumbui kebusukan
dan kita kantongi bau wangi yang memikat penciuman kholbu
demi sebuah masa
air mataku sudah mengring
biarlah senyum yang sumringah menggantikanya bersama tawa yang bergema.
*******
no copy paste !!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar