Wiliam sakespere pernah bercerita,bahwa bercintalah dengan penuh suka tanpa harus mengharapkan bujuk rayu ego diri.Tapi isi dadaku berbeda denganya,egoku tak bisa telanjang ketika bercinta.Sebab aku hanyalah insan yang tersesat dikebun anggur.
Ribuan jiwa mempunya gaya yang berbeda,tak semua harus seperti pendeta maupun rahib tua,seperti hujan yang tak harus dihias oleh awan hitam yang pekat.
Mayat-mayat menjelma bagai kupu-kupu dikebun bunga,ketika cahaya cinta merasuk menjadi jiwa.Mereka menari dan tangis mereka sudah mengering sejak kematianya kemarin lusa.Kini mereka telah menjadi kupu-kupu yang mungil dan mempunyai warna yang beraneka ragam sedap dimata.
Dan kahlil gibran mengajaku tenggelam dalam kesendirian,menemui kesejatian diri bersama Rumi.
Tidak tidak aku tak seperti itu,syahwatku masih sangat berharga tuk ditanggalkan,dan aku mensyukurinya ketika seorang bidadari menyapaku.Biarlah aku menjadi diriku.Tak harus seperti kupu-kupu maupun Rumi.Karena aku adalah insan yang ditakdirkan berketurunan.Mengajak sesama tuk memandang cinta lewat dua mata,dan menanggalkan harap disaat sebuah janji tuk terbang tinggi bersama.
******
Khidir pernah bercerita kepadaku disudut kota,”jadilah dirimu seperti keinginanNya,lakukanlah yang terbaik tuk sesama atas nama cinta sejatiNya.Bara yang terhampar diatas jalan akan terasa dengin dengan kasih yang menenangkan.
Tak harus seperti mereka para kekasihnya,sebab diriku memang berbeda.Walau diriku bukanlah untuku sepenuhnya.
salam penuh kasih dari prosa lirih
budi van boil @kompasiana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar