Hujan membasahi kepalaku yang kotor,menyapu butiran-butiran keringat disekejur tubuhku yang berbau amis.Melarutkan resahku tentang kesendirian,bersama angin yang membelai dingin kurasakan kesejukan.
Petir bersembunyi diantara awan hitam,cahayanya mengejutkan lamunanku.Gemuruh halilintar memang sahabat sang hujan,namun birunya langit hanya milik sang mentari.Bergemuruh menyerupai isi dadaku yang bergetar hebat bila kau sebut namanya.
Bagaimana bisa matahari mendekati bulan disiang hari,sedangkan malam adalah kekasihnya yang bergelayut mesra.Mungkin hanya mega yang bisa berubah warna yang selalu suka berkunjung kepada mereka berdua kapan saja.
Aku senang kepada mereka berdua,walau terkadang akalku memaksaku tuk gelisah ketika birunya langit berubah tiba-tiba saja.Aku ingin menatap bintang dikala malam,dan akupun menginginkan mentari tuk hiasi hariku.
Cakrawala membuatku selalu bertanya tentang diriku yang menyerupai mereka.Yang senantiasa mudah berubah kapan saja,menyisakan beribu misteri dan tanda tanya saja.Sepertinya aku harus merayu malam, agar dia mau bercerita banyak tentang diriku dikala siang hari,dan mengenalkanku kepada sang kekasih sejati.
Menatap
merasa
bicara
marah serta teriak
Apakah tidak ada bedanya dengan suasana langit yang berhias berbagai macam yang bergelayut bersamanya.Haruskah aku menghilangkan awan hitam,agar petir tak selalu memakan korban dikala harus menyambar.
Entahlah,dan aku hanya bisa berbicara kepada kebisuan yang masih saja bimbang.Dan mungkin suatu saat nanti sang kekasih membisikan sesuatu yang begitu mesra tentang ini semua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar