
Aku tak tahuharus berbuat apa untukmu
ketika kutahu kakimu berdarah
dan beberapa sembilu dihiriskan kehatimu
lalu merekapun pergi dengan tertawa setelah puas memasung ceriamu ditembok resah
Hay perempuan paruh baya
sepimu memungut sedihku tuk berontak
tapi lihatlah
dan kenapa langit terus begini
air mataku sudah mengering
dan mungkin hanya cairan berwarna merah yang harus kuteteskan
Aku hanya sanggup membaca kata-katamu dilayar segi empat
kau terkapar diatas bara
sekali lagi aku hanya bertanya kepada langit
sampai kapan mendung menyelimutinya
Aku lelah dengan kecemasanku
tawaku tak mengenakan lagi ketika kupandang sekelilingku
aku teringat bahwa kita harus tetap tertawa ketika belati menikam dada
tapi untuk saat ini kujahit mulutku
sebab aku tak patut melakukan itu
Perempuan paruh baya
kakikupun berdarah saat ini
dan aku hanya bisa membicarakanya kepada langit
agar kelak kita bisa tertawa lagi
karena cuma itu kekayaan kita
Maafkan aku tak disampingmu[sumber ilustrasi; dramaindonesia.wordpress.com]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar