Senin, 17 Januari 2011

Januari [50k]

''Januari....''
Begitu cepatnya kau berjalan,tanpa menoleh sedikitpun kepadaku.Saat kusapa kaupun nampak begitu acuhnya,dan hatiku berkata ''betapa angkuhnya dirimu dimusim hujan ini...

''Januari...''
Wajahmu begitu menggodaku tuk membuka sebuah lembaran baru,dari segala catatan yang pernah ada akan segera kututup,kusibak sebuah kabut yang bergelayut menutupi pandanganku.Dingin,mungkin itu adalah sifatmu selain sombong.Tapi biarlah kesombonganmu mensuportku tuk memulai sebuah coretan baru tentang sebuah puisi maupun prosa,atau sekedar cerita fiksi percintaan antara aku,dia dan mereka.

''Ahhhh...''
Ingin rasanya kutinggalkan setangkai mawar yang pernah kupetik dan kutanam dipekarangan rumahku,tapi tetap saja dia tersenyum genit menggodaku.Kelopaknya yang nampak segar setelah kusiram,menimbulkan wangi yang semerbak.Tapi sisi lainku ingin sekali meninggalkanya,bahkan salah satu tanganku teramat gatal tuk mencabutnya dan melemparkanya jauh-jauh dari pandanganku.Sebab durinya terlalu sering membuat jari manisku terluka,tatkala kumencoba meraih tangkainya.

''Hmmm...''
Januari,apa kamu tidak capek,atau lelah dan merasa pegal berjalan terus.
Berhentilah sebentar,sekedar menemaniku mencari sebuah intuisi yang buntu.
Atau kita bercengkrama sambil menatap bunga mawar yang kuceritakan tadi.
Kumohon bantulah aku,dan jangan terlalu cepat kau tinggalkan akulah,baru saja aku terbangun dari mimpi panjang itu hay januariku.

''Lihatlah...''
Angin diluar nampak begitu beringasnya bersama hujan,seluruh pepohonan dibuatnya panik seketika bersama atap rumah.Tapi,kenapa mawar itu tak juga beranjak pergi bersama mereka?
Apakah dia begitu kokohnya menancap dipekarangan rumahku,atau mungkin terlalu sering aku menyiraminya dan memupuknya,sehingga akarnya nampak begitu kokoh dan tegarnya ketika siangin deras bernama badai datang menyapa kami.

''Yeah..."
Akalku tak sanggup memikirkan itu,sedangkan kamu telah jauh berjalan meninggalkanku.
Baiklah,aku akan segera menyusulmu,setidaknya satu dua langkah berada dibelakangmu.Biar aku tak dikatakan tertinggal,menyerah dan lain sebagainya yang tak mengenakan untuk didengar indra dengarku.

''Okey...''
Aku segera beranjak mengejarmu,walaupun kau tetap diam membisu.
Dan kucoba tuk bertanya kepada pepohonan dan burung saja kalau begitu,atau kepada sesamaku yang kebetulan melintas disampingku.
Biar kita terlihat sama-sama berjalan beriringan dalam satu tujuan.
Itu saja mungkin kelakarku yang teramat bodoh kepadamu yang sombong dan bisu.

*********
Waktu takan pernah perduli dengan keadaan kita,dan kitalah yang seharusnya mengerti akan pentingnya sang waktu yang masih setia melintas didepan kita.

[pinggir trotoar by bvb]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar