Aku mengenalnya lewat tawa renyahnya, candanya yang menghiburku dikala kutersudutkan sebuah realita yang begitu membungkam mulutku. Dia menjabat erat tanganku, mengajaku dalam suatu jalinan kekeluargaan yang penuh harmoni.
”Angelina, biarlah aku memanggilmu begitu.
Sebab bagiku kau layak mendapatkan nama itu, terbukti dari tutur katamu yang begitu santun kepada kami yang ditabukan oleh kaum berpakaian bersih dan rapi.
Aku mengenalmu disaat masa-masaku membenci sebuah tangisan rekayasa yang teramat memuakanku, membuatku terpaksa hijrah kesebuah dunia kecil yang penuh warna yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Bagaikan bertemu seorang sahabat lama yang sudah menghilang ditelan bumi jutaan tahun yang lalu.
”Angelina aku ingin bertemu dan menghiburku.
Ucapku disaat kulihat kau sedang berada ditengah tawa yang membahana disudut dunia kecilku, kaupun mengajaku larut dalam sebuah cengkrama penuh persahabatan.
Dan disuatu hari yang penuh ceria, kau ajak aku tuk bertatap muka lewat hembusan udara. Kepada langit akupun memohon tuk menemuimu. Tak berapa lama kitapun bertemu, kau peluk aku dengan kasihmu, dan kau buai aku dalam pangkuanmu.
”Duduk sini nak, dan dengarlah ceritaku.
Kedua telingakupun larut bersama ucapanmu, menyimak kisahmu dan kuresapkan pada sukmaku. Rambutku yang panjang terasa gatal, ketika segala ceritamu membikin sempit dadaku.
Perlahan kuminum secangkir kopi yang telah kau siapkan, dan kusulut rokoku. Kulit kepalaku yang tak gatal masih saja kugaruk-garuk bersama senyum yang terpaksa kukulum.
”Sudahlah simak saja ceritaku, setelah itu biarlah kita kembali tertawa seperti kemarin.
Wajah yang manis dan sedikit berkerut itu kutatap dengan penuh tanya, seakan-akan aku telah menemukan seorang ibu yang sebenarnya. Matanyapun terlihat sedikit berkaca-kaca seiring nada dari mulutnya.
”Angelina…
Dengan spontan bibirku mengutarakanya.
”Kenapa begitu pandainya dirimu membalut deritamu dengan canda tawamu, padahal setidaknya kau pernah mengutarakanya kepada salah satu dariku.
Diapun hanya tersenyum, dan terkadang sedikit mentertawakanku.
”Sudahlah, air mata itu hanya sebuah tangisan yang memanjakan rasa, dan tawa adalah vitamin jiwa.
Dan tak berapa lama kamipun larut dalam tawa yang sebenarnya memaksa.
******
Rembulan nampak cemerlang dikala malam yang hitam
begitu juga dengan cinta
tak terasa indah tanpa luka yang menganga
biarlah air mata digantikan sang hujan
agar bunga yang layu senantiasa berkembang
Selalu begitu dan begitu kauajarkan aku, walau kini kau terbaring lemah dengan tubuh yang menggigil. Kau masih tawarkan senyumu kepada jiwa-jiwa yang ingin bertemu, kau tutupi sakitmu dengan pakaian ketegaran. Sungguh tak sanggup akalku tuk menangkap semua tentangmu.
Pernah aku mencoba membagi deritamu kepada saudara-saudaraku, namun kau marah kepadaku. Kau bilang itu tidaklah membahagiakanku.
”Sudahlah Angelina.
Aku hanya sanggup meminta kepada langit, agar malaikatnya senantiasa berada disampingmu. Menjagamu dari binatang buas, dan menemanimu disaat kau merasa kesepian. Dan aku, takan pernah menangis walau derita memeluku dengan begitu erat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar