” Perkenalkan namaku sifulan, aku tak begitu tahu apa itu agama. Yang aku tahu hanyalah kopi dan rokok.
“Hay kamu, dan kamu, dan kamu lagi.
Bagiku adalah kopiku dan bagimu adalah kopimu.
“Kopiku tak terlalu manis, karena aku menyukai yang sederhana, walau terkadang kopiku tanpa gula, tapi setidaknya diabetes tak melirik kepadaku.
” Apakah kopimu manis, pahit, atau sama sepertiku yang sederhana, atau kau tambahkan sedikit susu agar nampak berbeda.
“Ya sudahlah itu hak asasi kamu, yang penting kamu tidak meninggalkan kopinya, “yeah, walaupun susunya terlalu kental.
“Oh ya, aku tidak begitu hapal siapa nama Tuhanku. Yang kuingat dia adalah yang memberiku kehidupan, aku dulu tak mempunyai nama, namun sekarang aku punya nama, dan namaku adalah si Fulan.
” Kemarilah dan mendekatlah. Bisakah kita membicarakan kopi hari ini ?
” Tanpa kukenakan topi dikepalaku, dan kita akan membicarakan selera kita yang berbeda-beda, lalu kita mencoba mengingat dari mana kopi itu berasal dan bagaimana prosesnya hingga sampai menjadi serbuk hitam yang beraroma istimewa untuk kita.
” Hmmm, mungkin seperti perjalanan pagi menuju siang yang benderang, lalu menuju sore yang memikat, dan berakhir menuju malam yang gelap namun germerlap dan teramat dinanti tuk kita nikmati.
” Baiklah, yang pasti kopiku adalah kopiku, dan kopimu adalah kopimu. Beda selera namun sama rasa bila tanpa gula. Itu saja.
Wassallam
Pinggir trotoar belum digusur.
by
bvb
Tidak ada komentar:
Posting Komentar