Aku teramat sedih
ketika disekitarku banyak jelata yang merintih diantara tawa
cita cita mereka tergadaikan dilangit yang biru
tiada daya tuk mencapai selain mengadu kepada pilu
Koar koar dari pejabat sexy
sebarkan harap yang mengundang frustasi
tiada daya jelata memungutinya
selain bersenandung nostalgia senja negeri para pendusta
Katanya semua tuk sang jelata
namun apa buktinya
burung gagak tetaplah memakan bangkai
dan tikuspun sebagai pengerat yang mengendap endap dalam gelap
Negeriku seperti adegan komedi
tak ada yang aslinya
hanya sekedar guyonan yang mengiris hati sanubari
ibu pertiwi ditikam terang terangan
Pancasila
hanya hiasan dimeja kerja dan dinding ruangan yang bisu
berdebu ya dilap saja dong...
tiada diresapi dan dihayati
Para durjana berpestapora
para hidung belang mengumbar syahwatnya
anjing liar mengais sampah tuk perutnya
dan jelata hanya bisa menyeka keringat dipipinya
Mendung selalu bergelayut
ranting ranting keringpun mulai patah dan jatuh kebumi
menanti ganti dahan yang baru
sebuah musim semi yang hijau menjadi penantian baru
Tidak ada komentar:
Posting Komentar