Sang peracik kata senantiasa lari dari gelisahnya beban yang teramat merenggut kesabarannya,memungut botol-botol yang berisi ramuan iblis yang sama sekali tak menguntungkan kesehatannya.Dijadikannya cairan-cairan itu tempat melarutkan segala masalahnya.Berteriak pada kenyataan yang teramat menyesakan dan terkadang protes kepada kaki langit.
Sungguh memuakan !!!
Diskusiku tentang jiwa yang kering dilupakannya begitu saja,seolah-olah kata-kataku hanyalah angin lalu.Sungguh aku menyesal menyetubuhi harapku tentangmu,doa suciku hanyalah sampah yang kau ambil lalu kau buang begitu saja.
Teman…
Buanglah masalalukita itu dan cobalah kau titipkan masalahmu kepada gelapnya malam,agar bintang-bintang menyampaikannya kepada para penghuni surga,biar mereka datang membalut lukamu yang teramat perih itu.
Muak dan memuakan !!!
Tanyalah kepadaangin yang berhembus kencang,bahwa belukar yang sendiri telah kita lewati,padang tandus dan gersang telah kita lalui dalam sebotol bir masa lalu.Kenapakau masih saja merindukan padang gersang itu,botolnya telah kulemparkan jauh-jauh ketepi jurangnya,janganlah kau ambil wahay peracik kata?!!
Kemana ketangguhanmu yang dulu ?!!
Kemarilah dan mengertilah akan keperdulianku tetangmu,menarilah wahay temanku,kita berdansa dibawah kaki langit.Bersama semilirnya bayu yang bergelayut dengan mesranya,dalam nada kekasih semesta dan melarutkan segala problemakepada samudra biru yang membentang.
Aku mohon…
Biarlah malaikat membalut luka dan kecewamu
bersama para bidadari dan perikecil
lalu kita duduk bersama dalam satu meja
menikmati secangkir kopi
dan indahnya sekuntum bunga didepan teras kita yang telah bersih
dan janganlah kau kotori rumah kita lagi
aku sudah lelah temanku
lelah
dan teramat lelah
********
Tidak ada komentar:
Posting Komentar