Secangkir teh hangat sudah tersenyum kepadaku bersama asap nikotin dan rock and roll kesayanganku,sekali lagi aku mencoba menggoreskan kata serta meramunya menjadi aksara yang sekiranya terasa gurih dan renyah.Namun intuisi dikepala belum juga bisa dijamah dan disetubuhi begitu saja,butuh sedikit negoisasi dengan mata dan hati,demi sebuah selera yang begitu menggoda.
Hari masih pagi,jalanan sudah berdebu bersama udara yang telah terkontaminasi asap-asap egositas yang membelenggu.
Ragaku masih belum menyatu dengan sukma,ketika mata baru terbuka dan jendela masih tertutup dengan rapatnya.Butuh guyuran air dikamar mandiku,dan mungkin segelas teh hangat dapat membantu menemuiku yang berselera diri.
Kesepuluh jemari tangan mencoba meregoh saku celana,akutansi dan mungkin matematika menghampiri dan mengajak berdiskusi tentang indahnya bunga-bunga ditaman.Kupu-kupu kertas segera berterbangan diatas kepalaku bersama burung-burung yang mungil kesana-kemari.
Betapa indahnya pagi,aksara bergabung dengan angka-angka dalam irama yang penuh canda.Mungkin sang surya tertawa terbahak-bahak menyaksikan keluguanku,atau mungkin bayu yang masih dingin dan tenang tersenyum geli menyaksikan keterpanaanku pada isi saku celanaku.
Teh hangat,
nikotin,
dan saku celana,
diramu menjadi sebuah aksara,
semoga saja bisa menjadi bagian akutansi maupun matematika.
hmmmm,,,semoga saja bisa mewujudkan sebuah selera tuk penikmat kata,itu sajalah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar