“Dear Caphucino…”
Sudah lama aku tak melihatmu dalam gelas bening itu.
Mungkin deretan anggur merah telah menutupi keistimewaanmu dimeja itu.
Meja yang mana dulu kita saling beradu rasa dalam tatap dan sentuhan lidah yang tak bertulang.
Aku tahu aku hanya segelas kopi hitam yang tak begitu menarik,tapi aku tak pernah bermimpi tuk menjadi sepertimu.Walaupun dalam dirimu terdapat aku yang teramat sedikit.
“Ketahuilah sobatku caphucino…”
Kita dihadirkan oleh alam,dan diproses oleh tangan-tangan yang begitu penuh kasih.Dan diolah lalu dihadirkan tuk sebuah hidangan yang sangat special.
Tidak semua orang menyukai kita,tapi kita mempunya aroma yang istimewa buat mereka.Dan rasa kitapun relatif.
“Yeah…”hmmm…”
Tapi setidaknya kita beda,namun kita tak membedakan.
Kita hadir tuk siapa saja,dari tukang becak,tukang tulis atau tukang tipu yang menjual suara peminum kopi.
“Hmmm…”
Malam ini aku hanya sendiri menemani seorang wanita cantik,biasanya kau selalu dihadirkan tuk wanita muda itu.Tapi kata mereka kau belum bisa kesini,karena kau telah menjadi selera gadis-gadis kaya.Tak seperti aku yang hanya segelas kopi hitam.Dan mungkin aku tak begitu menarik buat mereka,karena bentuku yang biasa dan teramat sederhana.
“Tapi yasudahlah…”
Aku hanya menanyakan kabarmu saja yang sekarang telah menjadi sosok yang berbeda.
Aku bangga padamu,setidaknya kau tetap manis.
Dan aku hanya sikopi hitam yang terkadang pahit dan terkadang manis,tapi aku puas!
Karena aku juga istimewa bagi siapa saja yang membutuhkanku,bersama nikotin aku menjadi sosok yang paling sulit tuk diungkapkan.
Aku harap kamupun begitu.Dan masih menjadi caphucino,walau disekitarmu berjejer anggur merah dan taquila.
Itu saja sobatku.
Dari aku sikopi hitam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar